Sekilas berbagai model budidaya cacing tanah

Budidaya Cacing dengan tanah sebenarnya ada beberapa jenis. Diantaranya yang paling popular adalah jenis Lumbricus rubellus dan jenis Pheritima. Banyak yang salah kaprah terutama dengan kedua jenis cacing ini. Di pasaran pakan ternak bahkan pernah ditemukan penjual cacing yang dikemas dengan judul “cacing lumbricus perrytima super’. Meskipun konsumen tak ambil pusing dengan nama atau jenis cacing yang dibeli, namun hal tersebut perlu kita luruskan.Sekilas kedua cacing ini mirip, tetapi masing-masing punya karakteristik yang berbeda.

Umumnya budidaya cacing tanah di Indonesia adalah jenis Pheritima. Cacing jenis ini punya karakteristik sangat rakus terhadap bahan bahan organik sehingga dari segi untuk menghasilkan kascing  jauh lebih banyak daripada jenis Lumbricus rubellus. Sedangkan cacing Lumbricus rubellus mempunyai karakter yang malas-malasan untuk makan sehinga hasil dari kascing-nya pun sedikit. Cacing jenis ini biasa digunakan untuk bahan obat-obatan.

rak kandang cacing, diberi kapur anti semut

Lantas bagaimana untuk membedakannya?

Cacing Lumbricus rubellus punya keseluruhan tubuh lebih kecil dan ujung ekornya berwarna kuning. Cacing dewasa memiliki tanda alat reproduksi berupa gelang klitelum.

Pemilihan model budidaya

Ada 3 model budidaya cacing tanah. Dari 3 model budidaya cacing tanah tersebut masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sehingga pemilihan model budidaya tersebut tentunya disesuaikan dengan tujuan utama budidaya cacing tersebut; Apakah ingin memaksimalkan produksi cacing, ataukah sebaliknya ingin memaksimalkan produksi kascing.

  1. Model Rak bertingkat

Kandang-kandang untuk budidaya cacing tanah berupa bak kayu yang disusun bertingkat. Bak kayu dilapisi dengan plastik dan ditutup dengan tirai kain untuk menjaga kelembaban kandang. Kandang diletakkan di tempat yang terlindung dari sinar matahari langsung atau dengan diberi atap.

Keuntungan : menghemat tempat dan lebih mudah mengontrol populasi cacing sehingga cacing yang dihasilkan lebih banyak.

Kekurangan : ukuran bak yang terbatas menyebabkan produksi kascing yang dihasilkan juga terbatas.

 

  1. Model bak kolam

Tempat budidaya cacing berupa bak semen dan agak tinggi. Model pemeliharaanya cacing cacing di bak semen setiap hari diberi pakan berupa kompos, kotoran sapi dan bahan-bahan organik lain dengan perbandingan 1:1 (1 kilo cacing : 1 kilo pakan). Pakan ini ditebarkan begitu saja di atas permukaan setiap hari sehingga akan menumpuk sampai memenuhi kolam. Pemanenan kascing dilakukan dengan menyisihkan 10cm paling atas permukaan kolam untuk diletakkan di kolam baru. Sedangkan sisanya 10 cm ke bawah merupakan panen kascing.

Keuntungan : kascing yang dihasilkan lebih banyak

Kerugian : Bak kolam memerlukan investasi awal yang besar dengan bibit cacing yang banyak. Pemanenan kascing 3 bulan sekali atau setidaknya sampai bak penuh dan pemanenan kascing tidak bisa mengontrol pemindahan semua bibit-cacing.

kandang cacing model rak susun

  1. Model film

Bibit cacing ditebar dalam permukaan tanah yang lebar dan telah dilapisi dengan plastik secara sejajar. Pakan berupa bahan-bahan organik ditebar sejajar pula di samping  cacing cacing tersebut. Secara alamiah cacing-cacing akan bergerak mendekati pakan tersebut. Pakan yang baru juga ditebar sejajar sebelah pakan lama untuk kemudian pakan lama yang sudah berubah jadi kascing diambil.

Keuntungan : Panen kascing bisa dilakukan secara rutin setiap hari dan dengan cara yang mudah.

Kerugian : Budidaya ini memerlukan tempat yang luas.

Kemungkinan cacing dan kokon ikut terbawa saat panen sangat banyak

 

Dari ketiga model tersebut, pemilihan model rak bertingkat sangat ideal untuk menghasilkan cacing yang banyak dengan hasil sampingan berupa kascing.

 

Bagaimana mengatasi hama semut?

Semut, terutama semut merah biasanya yang kerap jadi hama bagi cacing-cacing tersebut. Semut-semut ini menyukai bahan-bahan organik dari pakan cacing tersebut sehingga cacing-cacing yang kita budidayakan tidak maksimal. Untuk mengatasi hal tesebut bisa dengan diberikan kapur anti semut.

Dengan model rak bertingkat, mengatasi hama semut ini lebih mudah dilakukan dengan:

1)      Pemberian kapur anti semut pada  tiang penyangga rak kayu.

2)      Rak kayu sebaiknya tidak menempel dengan tembok atau bidang manamupun yang memungkinkan semut untuk merayap melaluinya.

3)      Pada dasar rak kayu juga bisa diberikan mangkok minyak tanah

4)      Menjaga kelembaban atau kandungan media pakan dengan tetap lembab juga akan mencegah semut-semut tersebut.

 

Persiapan media dan pakan

Untuk persiapan media bagi cacing-cacing tersebut bisa dengan cacahan batang pisang dicampur dengan bekas baglog jamur. Semua media tersebut dibiarkan dulu sampai kurang lebih 2 minggu sampai siap ditebari dengan bibit cacing.

Pemberian pakan tiap hari dengan memberikan sisa sayuran, cacahan gedebok pisang, kotoran ternak dan  bahan-bahan organik lain. Perkembangbiakkan cacing rata-rata sekitar 3 bulan sampai dewasa, menghasilkan kokon, menetas dan berkembangbiak lagi. Selamat mencoba (Teks dan Foto : Alex Candra)

(Diambil dari : www.tabloidtransagro.com atas ijin langsung penulis)

 

2 thoughts on “Sekilas berbagai model budidaya cacing tanah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *